1 12 23 : God Bless Abundantly

Hello! Its been a while since the last time I share my thoughts here. How you guys doing? 

Anyway, happy new year! Semoga tahun ini tetap kuat bertahan, bertambah lapang dan tabah plus tetap tekun dalam segala hal dengan sepenuh-penuhnya. May God bless us abundantly; for us to have no fear but joy and strength.

Setahun sudah lewat, bagaimanakah 2022? 

Buatku, 2022 berjalan cepat dan lambat, bahagia dan berat. 

Cepat karena banyak sekali hal yang dijalani dan tahu-tahu selesai, lambat karena aku harus meluruskan kembali niat dan hal yang kulakukan dari dasar. Bahagia karena banyak berkat dan pelajaran yang aku terima; perubahan pola pikir dan kesadaran diri yang lebih berkembang sekaligus berat karena sebelum kesadaran diri dan pelajaran diterima, aku ditampar kenyataan terlebih dahulu dan yah tentu saja menyakitkan sekaligus terkejut. 

Kalau diceritakan secara singkat, tahun 2022 adalah tahun pertama beranjak ke usia kepala 2, aku melepaskan diri dari hal dan lingkungan yang tidak baik, terbuka mata untuk melihat dunia yang lebih luas dan tahun kehilangan. 2022 ditutup dengan kesedihan karena Uma (nenek dari pihak Papa) dan Nyaung (kakek dari pihak Mama) meninggal dunia dengan selang 2 hari, tepat di minggu menyambut Natal. Sedih ya? Sangat, tapi akhirnya bisa dihadapi dan hidup tetap berjalan.

Sebagai cucu pertama dan tinggal dengan keluarga Mama, aku tumbuh besar jadi anak asuh kakek dan nenek pihak Mama. Kenangan paling manis yang kupunya bersama Nyaung adalah malam hari dan ketika mati lampu. Di masa prima dan sehatnya, Nyaung senang mengajak aku dan adikku pergi ke warung, JALAN KAKI DI MALAM HARI! Untuk anak seperti aku, hal seperti itu adalah petualangan dan menyenangkan. Biasanya kami sekedar membeli teh dan malkist untuk dimakan sembari menonton TV. Ada hari dimana kami terlalu malas jalan kaki dan rumah dalam keadaan mati lampu sehingga sangat pengap (waktu itu kami belum punya genset). Jadi, Nyaung mengajak kami duduk di halaman rumah, memasang selang panjang dan menyalakan keran air. Yup bisa kalian tebak kalau kami main air! Kami duduk, menertawakan entah apa sambil Nyaung menyiram kaki kami dengan air dan sesekali kami loncat-loncat di genangan air yang minim. Kalau sekarang aku ingat, suasana malam tiap mati lampu jadi sejuk. Dan itu karena Nyaung.

Yah mungkin kita bahas kenangan cukup sampai sini saja karena nanti jadi sedih, hahaha. 

Euumm... masuk di tahun 2023 ini sebenarnya cukup baik. Hanya saja sisa-sisa dari tahun 2022 memang masih bersisa, dimana aku hidup bagaikan 2 orang; Jeni di awal 2022 dan Jeni di akhir 2022. Tapiiiii, satu pelajaran dan satu buku yang ingin kubagikan di tulisan hari ini bukan tentang menjauh dari rasa sakit, tapi tentang menerima dan bertahan. 

Dengan sisa-sisa kecemasan dan pikiran yang mengawang kesana kemari, aku membutuhkan banyak pertimbangan untuk menata kembali hidup. Apakah cukup layak? Apakah ini sudah jalan yang benar? Apakah pantas dan baik-baik saja? Sekelibat pikiran yang mengawang-ngawang tadi akhirnya membawaku pada sebuah kesimpulan. 

Kita tidak berkewajiban untuk meringankan beban orang lain, selain beban kita sendiri. Jadi bertanggung jawablah pada diri sendiri dulu! 

Sesuatu yang membuatku jatuh bangun dan sulit bertahan kemarin adalah kurangnya tanggung jawab; pada diri sendiri yang berimbas juga pada orang di sekitar. Padahal, bertanggung jawab dengan mempertimbangkan sejauh mana diri kita sudah bertahan, dengan apa kita akan kembali melangkah ke depan dan bagaimana tetap menempa keyakinan dan kepercayaan adalah hal kecil yang mudah tetapi tidak mudah, harus tapi belum semua orang melakukan! 

Tanpa kusadari, hal-hal yang kulewati dan jalani di 2022 kemarin seakan lewat tanpa permisi, tidak disadari kehadirannya dan tahu-tahu aku kebingungan untuk mencerna. Tetapi bersyukurlah mereka yang tabah dan memusatkan asa pada Yang Maha Esa! Tamparan, kenyataan dan penyadaran meskipun menyakitkan tetapi membuahkan hasil yang baik.

Beberapa waktu terakhir kuhabiskan dengan fokus pada skripsi, sesekali berkumpul dengan teman dan sekarang sedang menunggu untuk menghadapi kesempatan baru. Meskipun belum tahu arah kedepannya akan seperti apa, tapi aku sadar bahwa tidak perlu repot memikirkan hal yang belum terjadi. Mencoba memusatkan perhatian dan kesadaran pada saat ini; waktu-waktu yang akan dihadapi di depan mata akan lebih membantu daripada memusatkan diri pada hal yang sudah lalu dan hal yang belum diketahui di masa depan.

Sebuah buku (ada dua seri) yang membantu perjalananku ini adalah buku fiksi Jepang berjudul Funiculi Funicula : Before The Coffee Gets Cold. Dua seri buku ini bercerita tentang sebuah cafe yang bisa membawa kita ke masa lalu maupun masa depan dengan satu syarat. Sebelum kopinya dingin! 

Satu makna yang paling berkesan dari buku ini adalah bahwa setiap orang berhak untuk bahagia, tetapi juga berhak untuk sedih. Terimalah kenyataan. Kenapa harus merasa tidak pantas untuk bahagia? Kenapa harus merasa tidak boleh bersedih? Manusia adalah manusia.

Nah, satu yang menarik dari buku ini adalah kenyataan tetap tidak berubah meskipun kita berhasil pergi ke masa yang diinginkan. Tapi, kenapa ya ada orang yang tetap mengambil kesempatan pergi ke masa lalu atau masa depan, menuruti semua syarat yang tidak masuk akal meskipun kenyataan tidak bisa dirubah? Kalian harus temukan jawabannya, ya! Ingat, baca dua seri bukunya loh yaaa.

Sekian untuk tulisan hari ini. Semoga kita semua bisa menerima apa yang sudah dijalani dan dilewati; dan alih-alih meratapi atau menjauhkan diri dari segala hal, semoga kita memilih untuk bertahan. 

Kalau kata One Republic mah, "I hope that you don't suffer, but take the pain. Hope when the moment comes you'll say : I did it all."

God bless abundantly!



Komentar