Kilas Dua : Aku Pikir Aku Manusia Paling Berbeda

Sering dari semasa sekolah, aku berpikiran kalau orang lain tidak akan mengerti rasanya jadi aku. Semasa SMP, aku sebenarnya memendam perasaan benci yang tumbuh begitu saja ke beberapa orang yang rasanya nggak adil. Beberapa dari temanku gak akan pernah mengerti rasanya digoda atau diejek jadi anak perempuan yang lebih gendut daripada teman-teman seusianya. Meskipun tidak sampai di tahap yang mengerikan atau cukup untuk dikatakan bullying, tetap saja hati anak kecil yang sebenarnya dipaksa keadaan tidak bisa dibohongi begitu sedih. 

Rasanya ingin memeluk erat si anak polos yang sering menangis dalam diam di rumah, berharap ia bisa punya teman baru yang lebih waras dan punya tata krama. Si kecil yang sering menangis di rumah tanpa sadar ternyata begitu kuat untuk melewati masa-masa memuakkan itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, dirinya jadi lebih kuat, tak tergoyahkan, tapi hatinya pun kian keras. 

Hidup berproses maju dan masalah-masalah yang lebih menantang ternyata cepat datangnya. Dalam tiga tahun terakhir berstatus sebagai seorang siswa, banyak komentar yang aku dapat kian berbanding terbalik. 

"Eh.. kenapa sekarang jadi bekurus banget?" "Nah kan, lebih cantik kurus. Tapi pipinya jadi tirus gitu." 

"Wah Jeni, makan banyakin gin biar lebih berisi." "Oh, sekarang sombong ya sementang punya pacar." 

"Perangutan tuh..." "Jen, baik gak? Liat tugas dong..." "Sok sibuk jadi anak." 

Lontaran demi lontaran memuakkan rasanya. Orang munafik, bacot, sibuk dengan hidup orang, hidupnya tidak beres. Begitu diriku dulu memandang banyak orang yang rasanya mudaaaaah sekali berkomentar atas hidup orang lain. Tanpa sadar begitu banyak orang yang ku rendahkan dalam hati. 

Mereka tidak lebih baik daripada seorang pembual. 

Orang-orang gak tau diri yang hidupnya cuma bisa menghakimi orang lain.

Isi kepalaku berputar disitu. Sampai pada satu titik, ternyata aku paham, mereka juga tidak bermaksud. Hidupnya juga susah. Hatinya juga penuh memar. Mungkin memar-memar kian memudar seiring berjalannya waktu, tapi prosesnya tidak bisa dipungkiri memakan waktu lama. Ada yang memarnya kecil, tapi tidak bisa hilang sampai beberapa bulan. Ada yang memarnya besar, terjadi dalam satu hari, tetapi ternyata sembuh dan tidak berbekas dalam satu minggu. 

Dulu ketika hidup rasanya sangat sepi dan keras, aku selalu merasa "tidak ada orang sepertiku". Tidak akan pernah, karena aku hanya ada satu di dunia. Tapi ternyata tidak juga. Banyak orang dengan pengalaman serupa. Banyak yang berada di posisi sebagai anak perempuan pertama, cucu perempuan pertama dan harus bekerja untuk memenuhi hidupnya sendiri. Banyak yang berada di posisi pernah diremehkan, tapi bisa tetap mengukir prestasi dan pantang menyerah meskipun kesulitan secara finansial. Ternyata, banyak juga yang pernah merasa hidup begitu mengesalkan, mood rasanya hancur dan tidak ada yang beres dalam hidup. 

Meskipun aku berbeda dari manusia yang lain, ternyata aku juga mirip dengan manusia yang lain. Satu buku yang aku baca, ditulis oleh Lucia Song menuliskan bahwa "aku ingin hidup dengan kuat dan dengan caraku sendiri". Setuju! Aku juga! 

Buku yang membuat aku sangat ingin mengemas dan mempelajarinya dari awal tahun ini begitu menjawab pemikiran-pemikiran yang selama ini bergumul. Ada gak sih yang kayak aku? Apa cuma aku? Begininya hidup.. kenapa hidup orang lain gak kayak aku? 

Aku punya momen hidup yang kubenci, begitu pun mereka. Aku punya momen dimana ingin tidur tapi tetap terjaga di tengah malam, begitu pun mereka. Di balik kesepian dan kesedihan yang tercipta di relung hati manusia; meskipun yang menggoreskan luka di hati masing-masing adalah satu sama lain juga; ternyata di balik gelap dan dinginnya hari, kita pula yang menjadi obat dan meringankan luka satu sama lain. 

"Terima kasih sudah mau dengar ceritaku." 

"Saran kamu bagus, semoga aku bisa coba ya.."

"Makasih ya sudah ditemani nongkrong, mood-ku jadi lebih bagus sekarang."

Yaahhh ternyata kian dewasa, kian bertumbuh, aku jadi sadar bahwa manusia tidak hanya unik dengan caranya masing-masing, tetapi juga serupa dalam hakikatnya sebagai sesama. Tidak ada manusia yang tidak bersedih, cara terlihatnya saja yang berbeda. Tidak ada manusia yang tidak marah, cara menunjukkannya saja yang berbeda. Dan tidak ada manusia yang ingin jadi tidak baik-baik saja, karena tentu semua merasa bahwa baik-baik saja itu lebih tenang dan menyenangkan, iya kan? 

Salam enjoy dari Jenjoi~



Komentar