Kilas Pertama : To Myself Before You Turn 20....

Pesan-pesan dari kilas pertama diperuntukkan bagi setiap kita yang tumbuh dewasa tanpa aba-aba bahwa perjalanannya mengejutkan sekali. Untuk setiap kita yang sembari beranjak dewasa pernah menjadi anak-anak cerewet yang takut dicubit karena ingin jajan chiki sehingga berbohong. Untuk setiap kita yang sembari beranjak dewasa pernah jadi siswa/i yang menghabiskan satu minggu dalam hidupnya untuk menangisi dan update media sosial mengenai kesedihannya. Untuk setiap kita yang semasa beranjak dewasa, sebelum membuka babak baru lembar 20, 30, 40 dan seterusnya, pernah melewati kenangan yang rasanya sedih sekali.. malu sekali.. aneh sekali.. sakit sekali.. tetapi tetap ada bahagia sekali. 

Sebagai pembuka, izinkan aku membagi kisah tentang si Jeni diumur 16 tahun. 

Perempuan yang masih baru-barunya dengan hati terbuka dapat pacar baru setelah beberapa bulan melakukan seleksi alam. Di masa itu, hatinya seperti nano nano. Di sela pencapaian dan kebanggan studi yang ditempuh, tamparan akan kesulitan finansial keluarga hingga uang sekolahnya menombok jadi momok memalukan. Wakil ketua OSIS harusnya mencontohkan yang baik, ujar seorang guru kala itu. 
Menelan bulat-bulat ucapan yang terlontar, Jeni memutar otak untuk mencari pengganti kekurangannya ini. Oh, kemampuan, pikirnya kala itu. 
Dengan segenap tenaga, dikerahkannya seluruh waktu istirahat untuk mengerjakan perihal A-Z. Pembuktian, pembuktian dan pembuktian. Satu hal yang harus selalu ada, pikirnya kala itu. 

Hingga di suatu titik, pikirnya dunia pun membuktikan hal yang baik. Tanpa sadar di sela-sela ambisi mengumpulkan pembuktian, hal-hal disekelilingnya ada yang rusak. Tamparan demi tamparan, kenyataan demi kenyataan. Di usia yang ke 16 tahun, hidupnya bagai roller coaster yang batas toleransinya melebihi kapasitas jantungnya sendiri. 
Sakit sekali. Pedih sekali. Malu sekali hidupnya dalam satu malam.
Tetapi, dalam satu malam itu pula banyak wahyu yang hadir hingga menuntun hidupnya sampai saat ini. Memiliki kekurangan yang nampak di mata orang lain bukan berarti dirinya harus menyajikan pengganti untuk menyenangkan orang tersebut. Yang seharusnya dibuat senang adalah dirinya sendiri. Rangkul diri, terima diri dan bangun diri. Untuk diri sendiri bersama diri sendiri. Jeni di 16 tahun belum tahu bahwa manusia di sekelilingnya tidak mungkin punya pola pikir yang sama, sehingga perilaku mereka belum tentu akan sama seperti cara dirinya sendiri memperlakukan mereka. 

Butuh waktu 2 tahun untuk dirinya menerima segala kesedihan dan memaafkan apa yang telah terjadi. Di usianya yang sekarang, Jeni masih sering berharap bahwa andai dirinya lebih tenang dan tidak terusik. Tetapi, dirinya yang sekarang pula dengan bangga berkata, "Tidak apa-apa kalau dulu kalut. Toh, sekarang sudah baik-baik saja. Jadi bisa berpikir harusnya dulu tenang aja, kan, karena sekarang sudah belajar lebih baik dan hati lebih damai. Jangan menyesal. Kita baik-baik aja." 
Begitu pula dengan teman-teman di sekitarnya. Tidak apa-apa untuk istirahat, kata mereka. Percayalah akan ada jalan, kata mereka. Berani untuk fokus dan menjalani apa yang dihadapi sekarang, kata mereka. 

Nah... bagaimana pesan kilas pertama? Selaras dengan buku terjemahan O Caminho do Arco "Sang Pemanah" karya Paulo Coelho yang baru aku baca, beliau mengajarkanku mengenai makna "menerima kejutan hidup" yang tak terduga dengan sangat baik. Sedikit cerita, bulan Agustus menjadi bulan terberat sepanjang tahun 2021 sejauh ini. Aku kekurangan uang untuk memenuhi fasilitas yang kian dekat untuk digunakan, konflik yang terjadi diantara orang terdekat dan beberapa masalah hidup yang remaja banget plus satu dua kewajiban yang memang harus kutuntaskan. Tekanan cukup mengerikan meskipun tidak akan melebihi kapasitas diri, aku tahu itu. Di sela-sela ketika aku menemukan cara untuk beristirahat sejenak, melunakkan hati dan menenangkan batin serta mulai meniti tindakan perlahan-lahan, ternyata dunia ikut membaik pula. Yang aku ingat hanya tahu-tahu satu minggu terakhir di bulan Agustus, hidupku dipenuhi limpahan berkat yang tak terduga. 


Aku dinyatakan lolos dalam pemilihan beasiswa, orang tuaku mulai mendapatkan keadaan yang lebih baik, hubungan dengan sahabat maupun orang sekitar menjadi lebih baik dan tak disangka-sangka, diriku akhirnya merasa kembali menjadi sedikit lebih dekat pada Empu yang kusebut Tuhan. Gandewa dalam buku Paulo mengajarkanku mengenai bagaimana hidup diibaratkan pemanah dengan busur dan anak panah. Tentang bagaimana membangun pondasi diri ibarat postur dan cara memegang panah. Tidak ragu mengenai kembali bangkit meskipun akan gagal berkali-kali. 

Yang paling aku sukai dari pelajaran kali ini adalah perumpamaan bahwa tujuan hidup layaknya sasaran panah. Sejauh apapun jaraknya, bagaimana pun bentuknya, pemanah tidak bisa menyalahkan sasaran apabila panahnya meleset. "Kau tak dapat beralasan bahwa lawanmu lebih kuat ketimbang dirimu." ucap Gandewa.
Benar. Karena sasaran ibarat tujuan adalah sepenuhnya tanggung jawab sang pemanah, tanggung jawab diri. Bagaimana kita memaknai pilihan atas tujuan yang dipilih dan bagaimana kita menghormati tujuan itu, memaknainya dalam batin dan bagaimana cara kita membawa diri langkah demi langkah semakin dekat padanya. 

Anak panah yang akan melesat menuju sasaran diibaratkan Gandewa mengikuti jalan busur yang ditetapkan sewaktu panahnya dilesatkan. Anak panah akan terdampak angin dan daya gravitasi, tetapi memang itulah bagian dari perjalanan panah. Begitupun ibarat manusia. Jatuh bangun, terencana dan berantakan, utuh dan hancur. Meskipun begitu, tak ada yang mengubah hakikatnya menjadi seorang manusia. 

"Selembar daun tidak lantas berhenti menjadi daun hanya karena badai merenggutkannya dari pohon." 

Hidup yang jatuh bangun, diri yang utuh dan hancur lebur, jalan yang lurus dan berliku. Dengan bangga, aku menguatkan diri. Menerima bagian dari diriku yang nampaknya tak mudah, mengasihi bagian dari diriku yang begitu rusak dan memperjuangkan bagian dari diriku yang bersemangat menyambut hari-hari kedepannya. 

Dengan kejutan-kejutan dari dunia, dengan dukungan dari orang terdekat, dengan diriku sebagai seorang manusia. 

Selamat hari Minggu!
Salam enjoy dari Jenjoi~


ps : HAPPY TO ANOUNCE that I'm part of Beswan Djarum 2021/2022! Wish me luck for the journey. Doakan aku ya, teman-teman! Doa terbaik dari hati yang paling baik kembali kusampaikan untuk kalian semua. Terima kasih tetap bertahan dan semangat menjalani hidup. 








Komentar