Lembar Kesepuluh : (Tidak) Baik-Baik Saja

Satu judul buku terasa begitu menarik di hari aku mencoba menghibur diri dengan melihat-lihat katalog aplikasi belanja online. 
"Siapa yang akan datang ke pemakamanku saat aku mati nanti?" 

Selaras dengan pikiran-pikiran yang bergemuruh meronta untuk dituntaskan, ditindaklanjuti hingga disuarakan. Aku jadi termenung dan ikut bertanya pertanyaan serupa dan bukannya mendapatkan jawaban yang menenangkan atau inspirasi, aku malah mendapatkan perasaan takut dan andai-andai "bagaimana kalau aku mati sebentar lagi sedangkan masih banyak hal yang belum sempat kukerjakan?" 
Tak berselang lama ketika aku memutuskan untuk membeli buku ini tanpa pikir panjang, muncul kabar bahwa seorang pelanggan setia dari kedai kopi tempatku bekerja meninggal (diprediksi karena serangan jantung.)

Aku termenung selama dua hari sambil berandai-andai "apakah aku punya kemungkinan untuk mati secara mendadak?". Bagaimana kuliahku? Bagaimana harapan yang ingin kuwujudkan dengan pacarku? Apakah sahabat-sahabat yang aku kenal akan merasa kehilangan? Apakah program kerja yang aku usung akan berantakan? Apakah aku bisa dikenang dengan baik? 
Mencoba memusatkan kesadaran dan menimbang, aku menemukan kesimpulan bahwa hidupku baik. Aku telah hidup dengan baik selama 19 tahun hingga saat ini, punya penghasilan yang pas untuk mewujudkan ambisi studi dan keinginan foya-foya setiap bulan, punya pacar yang pengertian, punya beberapa sahabat dan sedang mempersiapkan diri agar layak menerima kesempatan beasiswa yang menanti diwawancara. 

Tetapi yang mengganggu adalah kenyataan bahwa ternyata aku punya banyak sekali penyesalan dan rasa sedih yang terpendam. Ingat pelanggan setia yang baru kusebutkan diatas? Beliau sering duduk menyendiri di pojok kanan kedai, pesanannya seringkali sama (hanya beberapa kali berubah), selalu "Jen, kopi hitam pake es. Sama tolong air es." 
Selama dua tahun menjadi barista, beliau adalah pelanggan setia yang mirisnya selalu sendirian dan kurang ditanggapi (termasuk oleh diriku sendiri.) Yang kuingat adalah beliau suka bercerita dan mendengar cerita, meskipun dominan bercerita. Yang aku selalu tahu adalah beliau sebenarnya butuh teman. 
Selama dua tahun menjadi barista, selalu ada hati kecil yang menyebut bahwa beliau hanya butuh satu orang. Satu orang teman yang cukup ingin meluangkan waktu menjadi teman bercerita setiap sore agar ia tidak perlu berpura-pura tidak kesepian dengan asik main game dan seringkali berkomentar sendiri. 
Aku selalu tahu itu. Aku menyadari itu dari beberapa minggu pertama ketika mulai mengenal beliau. Tetapi aku mengacuhkan. Untuk dua tahun terakhir hidupnya, aku hanya mengacuhkan. Tidak pernah cukup besar hatiku untuk ikut duduk dan mencoba mengajak beliau bercengkrama dengan benar. Satu kali, tepat satu tahun lalu, kami pernah berbincang mengenai satu mata kuliah yang sedang kuikuti dan pembicaraan tersebut bermuara ke peminatan kuliah yang ingin kuambil. Saat itu, aku dipenuhi rasa ngotot dan heran dan prasangka "orang ini sok tahu". Tidak pernah cukup besar hatiku untuk sampai dan meredakan ego bahwa pembicaraan ini menyenangkan. 
Seandainya, seandainya aku bercerita tentang mimpiku dengan lebih antusias dan mendengarkan beliau bercerita apa yang diketahuinya dari film seri kriminal, sore itu kami akan penuh tawa dan memori yang terekam akan lebih manis. 
Malam ketika aku mengetahui beliau meninggal, reaksiku sangat biasa. Aku merapal doa dan ucapan singkat, lalu pergi tidur. Tetapi ketika keesokan paginya pergi bekerja dan menyadari fakta tidak akan pernah sempat lagi mengucapkan sepatah kata apapun, siang hari itu aku pulang ke rumah dengan perasaan sedih. Kesedihan paling mendalam ternyata adalah mengingat bahwa aku tidak tahu apakah aku telah memberikan kenangan yang menyenangkan setidaknya satu kali untuk orang-orang disekitarku sebelum mereka pergi. Menjalani sisa hidupku, sampai akhir yang aku tahu adalah aku tidak mengambil kesempatan untuk sekedar mengucapkan "Terima kasih sudah mau jadi teman bicara saya, Om."
Hal ini menyeruakkan semua ingatan-ingatan dimana aku berkonflik baik dengan diriku sendiri, orang terdekat hingga orang lain yang tidak terlalu kukenal. Sekelebat ingatan mengenai apa yang kulakukan tidak selaras dengan bagaimana sebenarnya perasaan yang ingin aku sampaikan muncul begitu banyak sampai tidak bisa dihitung. 

Mengapa aku begitu jahat? Mengapa aku begitu acuh? Mengapa aku tidak ramah? Mengapa banyak perasaan yang kutekan? Mengapa harus selalu terlihat biasa saja dan memasang benteng?
Meskipun aku menjalani hidup dengan baik dan pergi di jalur yang kuingini, aku tetap tidak baik-baik saja. Hidup membuatku babak belur. Di setiap langkah yang kuambil ada banyak kegembiraan, tetapi juga banyak kesedihan, jatuh, kemarahan, kecemasan dan ketakutan yang hanya kututupi dengan kegembiraan. Pikirku, selama hidupku masuk kategori "terjalani dengan baik" dan "punya hal baik" di dalamnya, aku tidak perlu sedih. Tidak perlu cemas. Tidak perlu merasa hancur lebur. 
Aku harus dan sebaiknya baik-baik saja. 

Begitu tenggelam dalam momok "selalu baik-baik saja" menjadikan aku lupa bahwa manusia bukan robot (bahkan robot pun butuh perawatan dan mesin dalamnya bisa rusak, kan?)

Beberapa hari kemudian ketika buku ini datang, aku memutuskan meluangkan waktu untuk menyendiri sehabis bekerja dan menuntaskan kegiatan kampus yang perlu kutuntaskan. Hanya beberapa jam waktu luang, sendirian, untuk membaca, untuk menikmati diri sendiri. 
Kuputuskan untuk pergi memesan roti panggang dan segelas susu rasa cookies and cream di cafe tempat aku biasa membaca. Kira-kira dua jam aku menyendiri, membaca dengan hikmat dan menyeruput minuman manis, hatiku lebih tenang. Buku ini luar biasa. Bukan, aku yang sebagai manusia memiliki hidup luar biasa dan kepribadian luar biasa hingga bisa terkoneksi dengan cerita buku ini. 

Omong-omong, aku tidak biasa membagikan foto saat menikmati waktu sendiri tetapi mungkin kali ini akan belajar berbagi hal yang bisa kubagi. "Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?" oleh Kim Sang-hyun, segelas es cookies and cream dan satu porsi toast.

Aku, Jeniffer Joi mendeklarasikan bahwa aku adalah manusia yang tidak baik-baik saja, tetapi aku baik-baik saja. Aku dengan bangga mengakui diriku layak untuk merasakan sedih, cemas, takut dan semua perasaan yang bisa dirasakan hati manusia. Aku... akan tetap berusaha untuk tidak gentar, tetapi tidak lagi berpura-pura. Aku akan tetap hidup dengan baik dan menjadi orang yang hidupnya paling sama seperti diriku sendiri. Untuk setiap hal menyenangkan, aku akan dengan senang hati mengakui hal itu menyenangkan dan setiap pembicaraan tidak perlu lagi aku ngotot. 

Satu kalimat yang benar-benar membuat terenyuh dan begitu meredakan kepedihan adalah kalimat "Terima kasih telah tumbuh tanpa banyak mengeluh." 
Kupikir semua manusia, aku, kamu, kita semua butuh kalimat ini. 
Terima kasih untuk menjadi baik-baik saja meskipun sedang tidak baik-baik saja. 


Untuk Beliau yang berpulang dan sang Ibu tersayang yang masih ada di dunia, 
Terima kasih telah tumbuh. Terima kasih. 

Komentar