Lembar Kesembilan : Harmoni

Tulisan ini didedikasikan untuk setiap pribadi yang sedang dan terus berupaya setiap harinya, entah untuk mengelola dirinya sendiri, untuk membahagiakan keluarga, untuk memenuhi tuntutan, juga untuk mereka yang berusaha membaur di kehidupan. 

Manusia berupaya untuk hidup karena ada perasaan. Perasaan yang bermuara ke impian masa kecil, ke harapan hidup yang lebih baik, ke pribadi lain yang tertaut, ke setiap angan yang muncul di siang hari dan setiap asa yang tiba-tiba menyeruak dini hari ketika sedang sendirian dengan mata yang terbuka lebar. Masing-masing berusaha mengejar, berusaha melakukan sesuatu -bahkan yang menyebutkan dirinya tidak bisa apa-apa sebenarnya selalu melakukan setidaknya satu hal setiap hari. Hanya ada dua fase dalam hidup manusia, yakni fase sadar dan fase tidak sadar. 

Beberapa hari belakangan ketika dilanda perasaan tidak baik-baik saja yang begitu dahsyatnya, aku mencapai fase sadar bahwa "hidup sebenarnya hanya perlu pencapaian harmoni diri, bukan harmoni dunia." Rehat sejenak, berupaya mengingat kembali rentetan peristiwa hidup dan mengatur kembali (lagi-lagi..) apa yang sebenarnya ingin dikerjakan, ditambah rencana liburan singkat di waktu akan datang (yang kuanggap reward diri, meskipun capek juga ditambah tenggat waktu yang tetap mendekat dan kewajiban terus bertambah) cukup menjadi penghibur dan penguat. 

Omong-omong apa itu fase sadar dan tidak sadar? Muncul di benak secara spontan karena membaca mahakarya Genki, dua fase tetap dalam hidup manusia (menurutku) ini dapat digambarkan selayaknya menonton film (seperti yang diibaratkan Genki) atau membaca buku. Dalam tulisannya, Genki menggambarkan perumpamaan ini dalam wujud seorang laki-laki 30 tahun yang pasti mati (kita semua manusia begitu), dalam fase tidak sadar mengenai hal-hal yang selama ini dikerjakan dan diinginkan. Tujuh hari bertemu dengan si iblis (yang berwujud dirinya sendiri) dan menyadari betapa si Kubis menemani hidupnya, fase sadar perlahan-lahan ditemui. Satu keinginan sederhana yang sebenarnya bisa dilakukannya dari jauh-jauh hari, hanya perlu bertemu sang Ayah dan berterima kasih pada Ibu tanpa penyesalan. 

Hidup fase sadar, diibaratkan seorang penggemar Marvel yang memaknai setiap film dan bisa meruntutkan dengan jelas kesinambungan alur dari Guardians of Galaxy sampai End Game. Ia menonton, memaknai jalan cerita, memprosesnya dan mengenang dengan baik informasi tersebut menjadi bagian hidup. Tentu tidak seperti aku yang ibarat fase tidak sadar, sudah menonton semua seri Fast Furious, tapi tanyakan saja kesinambungan alur dan inti cerita setiap seri. Yang bisa kuingat hanya wajah tiap pemeran, bagaimana mereka berdoa sebagai keluarga dengan cara Katolik dan ingatan tentang kesedihanku karena Paul Walker tidak akan pernah hadir dalam setiap seri secara nyata lagi.

Kira-kira kalian paham gak, ya, sampai sini? Oke mungkin kita coba ke perumpamaan buku. 

Hidup seperti membaca buku, dalam fase sadar, ibarat manusia yang membaca buku self-improvement dan benar menerapkan apa yang diperolehnya dalam kehidupan secara nyata. Memahami makna sang penulis, dengan baik menyimpan dan mengelolanya untuk refleksi diri yang berguna. Berbeda ketika hampir dalam fase tidak sadar, ia hanya membaca kata demi kata, mendongeng dalam hati dari halaman pertama hingga profil penulis karena perlu pengalihan pikiran. Yang tersisa diingatannya hanyalah "aku baru saja menghabiskan waktu dengan membaca buku, sekarang lebih baik aku makan malam mi instan yang enak."

Kedua fase ini akan selalu memunculkan perasaan. Ibarat menonton film, manusia yang menyadari dan paham apa makna dari kegiatan "menonton film" memiliki hasrat ketika setiap film akan diputar, ada perasaan menggebu dalam hatinya untuk pergi dan dirinya tidak keberatan untuk itu. Ia tahu ia hadir karena ingin, ia mengerti mengapa ia datang dan secara sadar, ia tahu film itu menjadi bagian yang menemani peristiwa hidup yang dilalui. Berbeda dengan manusia yang hanya datang, mengeluarkan uang untuk membeli tiket hanya karena ditarik oleh temannya untuk pergi (sebagian karena tidak ingin ketinggalan rencana jalan-jalan atau tren foto tiket.) 

Si manusia sadar akan merasa begitu semangat ketika film selesai diputar, pergi tidur dengan hati yang entah takjub atau cukup kecewa tergantung dari ekspektasinya mengenai alur yang barusan dicerna. Tetapi tidak pernah ada penyesalan mengenai harga yang dibayar, menyisihkan waktu dan tenaga untuk hadir dalam pemutaran film tersebut. 

Sebaliknya si manusia tidak sadar akan merasa bagai sapi ternak, datang tanpa hasrat dan pulang dengan lelah, mempertanyakan "berapa kali aku akan membuang waktu dan uang hanya untuk pergi ke bioskop dan menyelundupkan popcorn caramel 8ribu agar ada yang dikunyah? atau sebaiknya aku memikirkan ingin bagaimana cara hidup di hari esok?" sebelum dapat tertidur. 

Perumpamaan buku silakan kalian interpretasikan sendiri. 

Fase sadar dan tidak sadar akan selalu datang bergantian, beriringan dengan tiap perasaan kita mengenai hal-hal yang datang. Berita baik dan buruknya adalah tidak selamanya fase itu hadir (karena mereka selalu bergantian.) Tidak selamanya kita sadar dan tidak selamanya kita tidak sadar. 

Tulisan Genki mengenai "bagaimana sebenarnya kau ingin dikenang ketika nanti lenyap dari dunia?" dari wujud si laki-laki menyadarkanku untuk hiduplah dengan harmoni. Selaras, sesuai, beriringan, seimbang, intinya harmoni. Antara perasaan, akal sehat, tindakan, ucapan, pemikiran-pemikiran, orang sekitar, alam, mereka yang bersinggungan, rumput, asam lambung, kucing, deadline proyek, semuanya. 

Jadilah harmoni. Buat harmoni. Temukan harmoni. 

Berfokus pada hal yang ada di depan mata, itu baik. Tetapi dengan harmoni, hal yang ada di depan mata tidak akan mengubur hal begitu penting yang belum ada di depan mata. Belum menemukan atau mencapai hal yang diinginkan, itu tidak apa-apa. Tetapi dengan harmoni, hal yang sudah dimiliki dan ditemukan akan tetap disyukuri dan disadari hadirnya.  

Meskipun ketika fase tidak sadar menghampiri dapat mengganggu harmoni, setidaknya pondasinya akan mengingatkan dan menjadi alarm. Meskipun ketika fase sadar dengan harmoni begitu merdunya tiba-tiba terdistraksi kejutan tidak mengenakkan, setidaknya pundakmu tidak rebah. 

Testimoni dari fase sadar dari pengalamanku adalah sebenarnya hidup selalu membantu kamu dari rentetan peristiwa untuk menemukan harmoni. Aku baru saja hadir di semacam kelas zoom untuk pengembangan diri dan pembahasan saat itu bermuara di "sebenarnya kamu mau meninggalkan kesan apa nanti?" dan "kamu mau diingat sebagai siapa?". Dan ketika menghadirkan diri di nuansa mahakarya Genki, kalimat "bagaimana jika aku lenyap dari dunia?" menyentil dan menyadarkan sampai ke ubun-ubun. 

Harmoniku, diriku, bagaimana aku menyadari dan mengapresiasi hal-hal penting tanpa melalaikan fokus untuk menyelesaikan hal yang ada di depan mata menyeruak ke ingatan dan hati. Kesadaran untuk memiliki waktu dengan diri sendiri, kesadaran untuk menumpahkan perasaan tanpa membohongi diri sendiri menjadi kelegaan dahsyat yang bisa dirasa. 

Selalu ada clue, selalu ada pilihan, selalu ada keputusan untuk diambil, dikulik dan dijalani (coba baca Paulo Coelho - Sang Alkemis kalau buat ini btw hahaha, buku favorit emang.) 

Untuk setiap kita yang sedang berupaya, untuk setiap kita yang begitu penuh dengan rasa, semoga pundak dapat dikuatkan dan hati dilapangkan. Semoga harmoni kalian ditemukan, dapat dikelola dan terdengar merdu di telinga manusia sekitar. Semoga kalian juga selalu ingat, tidak apa-apa untuk tidak baik-baik aja dan sempat tidak sadarkan diri.

Salam enjoy dari Jenjoi!


Komentar