Lembar Kedelapan : Tak Tersentuh Dunia

Hai! Kembali bersama Jenjoi di lembar kedelapan. 
Suatu hal yang mau kubagikan hari ini adalah "tak tersentuh dunia". 

Berbeda dari tulisanku sebelumnya mengenai pengalaman sendiri, hari ini aku terinspirasi menulis dari om-om di awal era dewasa madya yang rupawan, baik hati dan begitu penyayang. Siapa dia? Kalian harus memanggilnya Papa Tersayang Jeni. 
YES! Tulisan hari ini terinspirasi dari Papa, sosok yang sampai hari ini tidak aku mengerti kerja sistem kognitifnya dan bagaimana hati nuraninya diciptakan Tuhan. Karena apa? Papa terlihat tidak pernah belajar dari "kesalahan" alias tetap saja ingin membantu orang dan hidup seperti dunia hanya punya sisi yang baik adanya. Benar-benar susah diterima oleh aku -sang anak sulung- yang terlalu melihat sisi kelam dunia dan memikirkan bagaimana pelajaran bisa diberikan pada oknum-oknum. 

Jadi, berangkat dari satu cuitan donasi yang bermuara ke komentar mengenai bagaimana sebenarnya dunia memanfaatkan "momentum" ini, aku duduk merenung di meja makan dan memikirkan "hm, apakah kami generasi ini salah?" dan "apakah yang kami lakukan nyaris tidak ada gunanya?". Lalu, Papa datang dan duduk di meja makan dengan santainya menyuap kuah soto dan daging sisa sop buntut yang dibeli tadi siang. Ia hanya berucap, "Ce, bikinkan papah teh hangat pang. Yang manis, dong, jangan yang lemon tu enaknya es." 
Sembari membuat teh, aku merenung dan merenung lalu ikut duduk di meja makan, tepat di sebrang Papa Tersayang Jeni. Sambil menunggu papa makan, aku ikut nyeruput es teh lemon. Sambil memandang dan berbincang-bincang, aku lalu terpikirkan kilas balik peristiwa yang aku lalui dan beberapa perbincangan. Merenung dan kemudian melihat kembali ke arah papa (yang sempat beranjak dan nambah kuah soto sepiring), tercetus satu lampu di diriku. AHA!

Sebenarnya, yah, dunia memang pasti jahat dan pasti baik. Ada orang-orang berjalan disisi dunia yang begitu diyakininya tanpa mempedulikan pandangan orang lain, ada juga yang berjalan disisi yang sudah ditentukan berdasarkan saran, arahan dan kritik orang lain serta ada juga yang berjalan disisi yang diambilnya karena belajar banyak dari pengalaman sendiri dan orang lain. Mungkin ada kriteria yang lain, tapi yah aku baru kepikiran tiga, jangan protes (karena blog ku bukan tempat untuk aku didebat). 

Papaku adalah salah satu orang yang tidak masuk di kriteria tiga tersebut alias "tak tersentuh dunia". Kalian tau, aku terbiasa dan pernah menyebut papaku adalah orang bodoh dan terlalu lugu di dunia karena terlalu iyaaa aja terus melakukan hal yang menurutku baik tapi dimanfaatkan. Tetapi malam ini, kukatakan dengan lantang, TIDAK. No, my father is not a moron, is not a stupido. The world just can't "touch" him. We all can't.  
Papaku tidak buta realita, ia selalu mengingatkan bahwa "biasa aja hal seperti itu kejadian, orang hidup iya pasti ada yang baik pas sama kita, tapi nanti ada pas memang kada cocok sama kita."
Papaku tidak buta bahwa ada orang jahat dan ada orang baik. Papa juga tidak lupa bahwa memang ada orang yang mengambil keuntungan dan tanpa pamrih. Papa sadar betul ada orang yang memang tidak sepantasnya dan yang sangat membutuhkannya. Tapi, semua hal ini tidak menyentuh dirinya sama sekali. 

Apa yang bisa dilakukannya, yang menurutnya "aku bisa bantu, aku bisa kerjakan, aku tidak papa mengalami, aku biasa saja ini" akan diterimanya dan yang memang diluar kuasa dan kapasitasnya diserahkannya, tidak berlarut-larut.
Meskipun di belahan bumi bagian Z ada yang mengerjakan hal serupa dan tidak sesuai niat yang lurus, Papa tidak terpengaruh. 
Meskipun di belahan bumi bagian A ada yang mengalami hal serupa dan malah untung, Papa tidak mengeluh. 

Dunia tidak menyentuh Papa. Papa tidak terganggu oleh dunia. 
Sebaliknya, kehadiran orang-orang seperti Papa membantu aku, manusia yang ternyata terlalu tersentuh dunia menjadi sadar bahwa yah, habistu pang? 

Bukan berarti hanya pasrah atau sembunyi di balik topeng atau mendekam di balik selimut, hanya saja, apa yang menurutku memang yah aku bisa, yah ini kujalani, yah memang ini pelan-pelan, yah kujalani. Kesungguhanku aku yang tahu, apa yang diperbuat orang diluar dari kendaliku, yah habistu pang? 
Kecuali memang kendali ada di satu tangan saja dan bisa di kontrol, tentu lah dunia ini enak sudah diatur (sebagai orang yang percaya Tuhan, dunia saja tak bisa berjalan sebagaimana yang Dia kehendaki awal mulanya). Tapi.... ternyata tidak.... yah.... habistu pang? 

Menjadi "tak tersentuh dunia" seperti Papa mungkin tidak bisa kuterapkan benar-benar persis seperti Papa di sepanjang kehidupan karena jelas, Papa adalah orang terpilih dan siapa aku yang bisa menyamainya (individual differences lah yawww).
Tapi dari kehadiran orang terpilih seperti Papa ini, aku belajar dan setidaknya aku tahu kemana diriku melangkah dan memiliki "pelajaran" ku sendiri yang maknanya ditunjukkan Yang Kuasa agar cukup aku saja yang tahu apa yang harus dan tidak harus bagi diriku (karena yah namanya beda-beda tiap orang).

Mungkin, apa yang bisa kuperbuat tidak sehebat mukjizat Paulus di zaman para Rasul. 
Mungkin, apa yang sedang aku dan teman-temanku perjuangkan tidak seekstrem perjuangan masa penjajahan. 
Mungkin, pesan yang aku rasakan saat menulis ini tidak sama seperti kesan kamu dapat ketika membaca tulisan ini. 
Tapi yah..... habistu pang? 

Papa selalu ngajarkan aku sebenarnya, di setiap langkah kehidupan, secara langsung dan tidak langsung, lewat wejangan atau bahkan cuma hidup biasa seperti dirinya sendiri. He's such a genuine, kind-hearted, lovely person I've ever met. He's so special and I thank God because He let me know it today. 

Aku sih rencananya mau begadang ngebut tugas karena banyaaaak sekali, but I decide to give myself a rest. Sleep tight if you read this before you are going to bed and have a good day if you read this when you wake up. 
Salam enjoy dari Jenjoi!

Komentar