Lembar Ketujuh : Pulang
Hai, selamat malam Sabtu!
9 hari terlewati di bulan April dan hampir 1 bulan semenjak terakhir kali aku berbagi disini.
Hari ini setelah berdiskusi dengan beberapa rekan organisasi, menangis untuk diriku sendiri, pergi menjalani hari dan membaca ulang gagasan Stoa aka Filosofi Teras dengan menyeruput secangkir split dengan gaya modern di sudut luar cafe, aku kembali sadar dan memahami bahwa hal yang penting untuk selalu kuingat adalah pulang. Pulang kepada diriku sendiri, pulang ke rumah, pulang ke keluarga, pulang pada fokus tujuanku sebelum nanti tiba waktuku berpulang pada peluk Empu yang Diatas.
Beberapa minggu di padatkan jadwal kerja, kuliah dan organisasi, ternyata aku lupa diri dan lupa untuk pulang. Bukannya sibuk berujung terselesaikannya tugas, aku hanya sibuk menunda diri untuk beristirahat dan akhirnya tidak menyelesaikan apa-apa (satupun) -dan yah meski ada tugas yang selesai, hasilnya tidak maksimal (dalam kacamataku).
Dari pembicaraan dengan rekan organisasi, aku menemukan petuah bahwa "jangan mengambil keputusan disaat kondisi terpuruk dan kondisi paling senang" karena pemikiran kita tentu saja tidak rasional (setidaknya kebanyakan kasus begitu kan). Satu yang paling menyentil adalah pengingat bahwa "ketika sedang di kondisi terpuruk, coba ingat lagi visi dan tujuan yang ingin Jeni capai." Sungguh, aku menangis untuk diriku sehabis pembicaraan kami usai karena sadar bahwa selama ini aku melupakan, aku menyepelekan, aku hilang arah.
Tujuanku jadi terlupakan, jalanku hilang arah dan apa yang kukerjakan tidak sepenuhnya aku sadari. Begitu menangis dan mengingat kembali, menguatkan diri dan mencoba memikirkan langkah apa yang harus diambil, aku memberanikan diri untuk tes kesehatan (mengingat di masa pandemi, denial tentang gejala sangat umum dilakukan.) Tanpa mengabari kedua orang tua dan berbekal gaji bulanan yang duluan diambil, aku pergi melangkahkan kaki memberanikan diri melihat apapun hasil diagnosis kesehatan. Dalam benakku selama perjalanan, mengurus administrasi, melakukan tes dan menunggu hasilnya hanyalah "kalau aku benar positif COVID, maka aku harus dikucilkan dan disalahkan apabila adik kecilku juga kena imbasnya."
Hanya itu yang terbesit sepanjang waktu menunggu hasil sampai akhirnya hasil tes keluar dan puji Tuhan kepada Yang Maha Esa, negatif. Bergetar, tidak bisa berbicara dan terduduk di ruang tunggu lab selama hampir setengah jam membuat aku lebih sadar betapa pentingnya hidup yang diberikan. Setelah memberi kabar (yang bagiku kabar sukacita) kepada orang tua (yang tidak menyangka aku berani tes sendirian) dan orang-orang berharga bagiku, aku pergi memberi reward pada diri untuk -yes seperti yang kalian tebak- mengopi!
Pesananku adalah split dengan beans gaya modern dan spot untuk diriku mereward diri adalah pojok samping cafe dengan tanaman tertanam di dinding sebelah (plus kucing cafe yang mondar mandir seperti tahu aku butuh teman bicara). Filosofi Teras oleh Henry Manampiring adalah buku yang aku pilih untuk kembali menemani hariku.
Kembali diingatkan pada gagasan bahwa ada hal-hal yang tak bisa ku kendalikan dan tak sepatutnya bahagiaku digantungkan pada hal tersebut adalah sebuah anugerah. Entah itu dari Tuhan, entah itu rentetan peristiwa alam yang berkesinambungan atau entah itu hanya panggilan semesta, yang pasti adalah kembalinya aku untuk hidup kembali selaras dengan alam dalam artian hidup sebagaimana harusnya peran dan esensiku sebagai manusia kembali hadir.
Aku kembali menghadapkan diri dengan realita, kembali berpegang pada tujuan, mengembalikan tekad dan niat serta mengingatkan diriku bahwa keluargaku, diriku, temanku, pacarku, rekanku dan banyak orang berharga dalam hidupku tidak boleh aku lupakan -dan tinggalkan (kecuali nanti aku atau mereka meninggal ya silakan sudah waktunya).
Melihat kembali bahwa hal yang kuraih nanti adalah apa adanya hanya sebuah pencapaian studi, orang berharga di hidupku adalah apa adanya manusia yang fana dan meratapi hal-hal diluar kendaliku hanyalah sebuah kesia-siaan adalah satu cara untuk tetap hidup sebaik-baik yang kubisa.
Aku ingin mengulang kutipan Melkisedek dan mengungkit kembali betapa kita tidak boleh melekat, tapi kayaknya di setiap blog-ku selalu ada hal itu. Semoga kalian gak bosan, ya (alih-alih semoga tulisanku ini bisa jadi reminder).
Mari bertualang dan jangan lupa pulang! Salam enjoy dari Jenjoi~
👍👍👍
BalasHapus