Lembar Lima : Bukti Akurat
Di penghujung bulan pertama tahun 2021 ini, apa yang akan kubagikan di lembar ke lima adalah soal bukti paling akurat. Rencana awalnya padahal ingin membawakan tema yang disarankan beberapa teman, tapi setelah balik ke rumah dari menjelajah, dimana aku baru saja makan jagung bakar favorit plus segelas es susu milo, "nur" datang dan menyebut bukti dalam batinku.
Jadi, apa bukti akurat yang ingin dibagikan dan diceritakan Jeni malam hari ini?
Belakangan, aku cukup beberapa kali berkumpul dan bertemu kembali bersama beberapa sahabat. Situasi berjalan lancar, ekspresi yang kutunjukan biasa saja, sungguh tidak mengganggu sebenarnya ketika satu topik obrolan muncul membahas betapa lucunya masa lalu dimana kami masih siswa SMA. Satu kalimat yang sebenarnya selama ini cukup sering aku dengar, meskipun sebenarnya biasa saja tapi cukup menyentil nyatanya. Membuat kenangaan-kenangan lama muncul dan kesadaran-kesadaran baru terungkap, dalam diri tentu saja.
"Gara-gara bekawan sama Jeni ja dulu jadi kelahi."
Bagiku itu lucu, bagi kami itu candaan. Tapi ternyata kalau ditilik ke belakang dan sampai hari ini, aku baru sadar kalau hal itu jadi suatu hal yang sangat menyentil batinku dulunya. Ternyata, setelah hampir 5 tahun lewat terhitung dari pertama kali aku duduk di bangku SMA, aku baru menyadari bahwa hal-hal yang dulu sering aku lakukan (bahasa lainnya adalah berusaha mengukir prestasi) tidak lain dan tidak bukan karena ada hal yang ingin aku buktikan. Meskipun tampaknya pada saat itu aku tidak merasa ada beban, ternyata diriku yang sekarang jauh lebih memiliki kesadaran dan kepekaan diri sadar bahwa aku cukup lelah (dulunya) karena terjerat pembuktian pada masanya.
Cukup lelah untuk berusaha membuktikan bukan aku yang memulai masalah, cukup terbebani dengan perasaan untuk membuktikan bahwa aku bukan murid yang bisa direndahkan karena jurusan dan keterbatasan finansial serta cukup muak untuk sangat ingin membuktikan aku bukan orang selemah yang dipikirkan.
Padahal, apa yang kulakukan pada akhirnya hanya diketahui oleh diriku dan orang-orang terdekat (karena mereka tempat ku bercerita dan berbagi). Lelah yang dirasa nyatanya hanya jadi pengalaman untuk diriku sendiri dan semua hal yang kudapat, ilmu maupun hal-hal baru tersebut tidak berpengaruh dan memiliki sangkut pautnya sama sekali pada orang-orang yang dulunya masuk ke dalam list "tamparan pembuktian"ku. Yah balik lagi ya ke jangan melekat, ujar Melkisedek, kesia-siaan diatas kesia-siaan.
WOKEY, balik ke masa sekarang setelah termenung dan memikirkan, mengenang kembali dan mengintrospeksi diri, aku begitu bersyukur boleh sampai di tahap bahwa aku secara sadar paham tidak ada hal yang perlu dibuktikan begitu banyak hanya karena mata manusia. Hal ini cukup kusadari dan begitu kupegang erat semenjak lulus dan peristiwa yang akhir-akhir ini mengingatkanku yakni ketika melihat matahari terbenam di atas klotok di sungai martapura beberapa hari lalu. Seketika tercetus ungkapan bahwa Tuhan saja, yang sangat hebat segalanya, melukis semua ciptaan dengan begitu hebat dan indahnya sering tidak disadari oleh manusia. Seberapa hebat dan seberapa sukanya Tuhan melukis ciptaan-Nya hanya dapat disadari dan terlihat, tergantung dari seberapa dalam, seberapa terang dan seberapa jauh terbukanya mata dan hati manusia yang melihat.
Yah, akhir penutup untuk malam ini yang perlu aku ungkap adalah tidak ada pembuktian yang perlu dibuat untuk mata manusia, karena mata hanya akan melihat apa yang diinginkan empunya. Memang dalam hidup, bagiku tidak ada bukti yang lebih akurat daripada bukti struk pembayaran belanja. Apa pembuktian kita bisa seakurat mesin pencetak struk pembayaran di kasir-kasir tempat kita berbelanja? Tentu saja tidak, kita manusia begitu dinamis untuk nominal total belanja yang statis tidak akan pernah berubah (maksudku ya kita belanja baju 50.000 hari ini, maka tahun depan pun fakta dan bukti tersebut tidak akan berubah kan ya. Kita tetap selamanya pernah belanja baju seharga 50.000 sesuai tanggal tertera di struk, benar kan? iyakan.)
Sekian, mari kita berbahagia tanpa beban pembuktian yang sia-sia. Mari mengarungi tahun 2021 bersama, tetap waras dan semoga kita riang gembira.
Salam enjoy dari Jenjoi~
Komentar
Posting Komentar