Lembar Empat : Jangan, Melekat.

 Selamat hari Selasa dan selamat hari Ibu untuk seluruh Ibu yang aku tau di dunia. 

Subuh hari ini diiringi lagu Honeymoon Avenue punya mbak Ari dan buku hadiah Konspirasi Alam Semesta-nya bung Fiersa, aku duduk di depan laptop sehabis baru saja mengumpulkan tugas individu mata kuliah pio.

Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu aku pengen lanjut nulis disini dan satu yang kucetuskan sebagai judul ini begitu terngiang. Cuma yah baru sekarang ada waktu dan juga keberanian. Jadi, sedikit berbagi bahwa aku lagi berbahagia. Akhir-akhir ini walaupun menjelang akhir semester tiga yang sedang banyak-banyaknya tugas, aku cukup bahagia dan menjalani kehidupan sesantai mungkin karena di sela kejenuhan aku bisa baca buku dan baking cookies. 

Gatau mau lanjutin pengantarnya gimana, jadi langsung aja deh. Kenapa judul hari ini Jangan, Melekat? Karena baru-baru ini aku jadi begitu tersadarkan bahwa kemelekatan adalah suatu hal yang membahayakan. Mengapa? Menurutku, ketika kita melekat entah kepada hal apapun di dunia, baik dari benda mati sampai makhluk hidup sekalipun akan muncul ketergantungan dan ketidakberdayaan. Dari apa? Mengontrol keingingan. Manusia punya banyak keinginan tak terbatas. Aku yakin betul keinginan manusia tidak ada batas, sama halnya dengan sabar. Jadi bagi kalian yang berpikiran bahwa "sabar pun punya batas" maka kita beda jalur, hahaha bercanda. 

Kemelekatan bagiku jadi suatu penghambat untuk kita berdamai dengan diri sendiri dan berkomunikasi lebih luas dengan dunia, hingga jika mau religius sedikit, kepada Dia yang Diatas. Banyak kejadian di sekitar yang menyadarkan aku akan hal ini, salah satunya yakni buku Sang Alkemis dari Paulo Coelho. Sedikit sinopsis, intinya buku ini menceritakan si anak gembala, Santiago yang berusaha memenuhi panggilan "harta karun"nya. 

Apa hubungannya buku ini dengan kemelekatan? SELURUHNYA. Buku ini mengajarkan aku, sungguh. Andaikan saja Santiago melekatkan bahagianya pada domba, dia pasti dah stuck disitu aja. Andai Santiago melekatkan bahagianya pada Urim dan Tumim, sah dah jadi buta sama realita. Andaiiii juga Santiago melekatkan bahagianya pada Fatima, sah jadi bucin yang akhirnya gagal wujudkan impian. Tau yang bakal lebih sedih dan goblok kalau kejadian? Andai Santiago melekat sama harta karunnya itu sendiri, fix gagal mencapai kemurnian. Bingung gak sih sama apa yang aku bicarakan? Kalau gitu yah silakan monggo baca bukunya dulu ya hehehe. 

Pada intinya, kemelekatan bagiku sekarang suatu momok yang begitu membahayakan dan ada baiknya, harus, bagiku manusia belajar melepas diri dari kemelekatan kepada hal apapun, pemikiran apapun dan siapapun. 

Aku akhir-akhir ini banyak ditunjukkan ada manusia yang melekatkan dirinya ada kesenangan duniawi sehingga tidak bisa memaknai nilai kehidupan yang berharga. Aku melihat sekumpulan manusia yang melekatkan bahagia dan kekuatan dirinya pada pengakuan dan dukungan orang lain, sehingga dirinya jadi begitu rapuh, dimanfaatkan orang dan lemah serta bodoh karena selalu ingin jadi korban. Aku juga melihat manusia yang melekatkan dirinya pada kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan yang membuat dirinya buta akan nilai hidup dan hal berharganya yang kini tidak pasti apakah bisa kembali atau tidak. Begitu miris karena pikirku, semua kondisi diatas ini hanya bermuara ke satu hal, penyesalan. 

Maka dari itu, beberapa hari ini aku benar-benar memupuk keberanian untuk menulis ini di blog. Harapanku, semoga kita yang masih memiliki kesempatan untuk berdiri dan hidup di dunia ini bisa berjuang dan menemukan tujuan hidupnya. Aku harap tidak banyak lagi terjadi kasus kemelekatan yang begitu mematikan dan membahayakan jiwa hingga ke roh yang menghidupkan kita ini.

Jangan ya, Melekat. Pergi saja jauh-jauh, jangan hampiri hati kami. 

Dan kita-kita, jangan mau ya melekat. Mari berusaha, mari kita coba pelan-pelan, tidak papa kalau butuh waktu yang agak lama atau bahkan ada yang waktunya lebih cepat. Sesuai dengan porsinya kita masing-masing, mari jadi manusia yang benar-benar manusia, bisa memutuskan dan menentukan pilihannya. 

Jangan mau dilekatkan dan melekat.

Karena dimana hartamu berada disitu hatimu berada. 

Moso iyo kamu mau naroh hatimu di harta secetek kepuasan duniawi ini, sedangkan tujuan kita yang lebih mulia dan worth it banget itu bisa ditemukan ada di hati kita yang paling murni? 

yuk coba, yuk hadapi, yuk sama-sama. Jangan lupa baca buku Sang Alkemis itu ya kalau belum, jamin deh ngerti kalau bener-bener bacanya.

Salam enjoy dari Jenjoi~

Komentar

  1. Suatu hari Buddha pernah berkata : Semakin melepas, semakin ringan, semakin berbahagia... Sabe Satta Bhavanthu Sukhitatta..

    BalasHapus

Posting Komentar