Lembar Tiga : Jujur ya, Aku.

Saat diberi dua pilihan dibawah ini, mana yang akan anda ambil? 

Menjadi jujur atau menjadi baik?

Apakah orang jujur selalu baik dan apakah orang baik selalu jujur adalah salah satu pertanyaan paling besar yang akhir-akhir ini terlintas di kepala. Yah semua dipicu karena baru saja kemarin, saya sadar bahwa saya belum jujur kepada diri saya sendiri dan hal "tidak jujur" itu kebanyakan dianggap baik. 

Jadi, saya begitu marah kepada seseorang atas ketidakadilan yang diperbuatnya kepada salah seorang yang begitu saya perdulikan. Tetapi saya merasa hal tersebut tidak baik apabila saya memiliki perasaan marah tersebut, sehingga dalih yang saya buat adalah "saya begitu marah dengan diri sendiri". Saya ingin menjadi orang baik yang tidak memiliki rasa marah terhadap pribadi tersebut dengan cara tidak jujur kepada diri saya sendiri.

Sekarang boleh anda pikirkan, apakah saya baik untuk tidak jujur ataukah apabila saya jujur maka saya menjadi tidak baik? Setelah melewati waktu emosional tadi malam dengan nasehat seorang guru dan membawa diri untuk bepergian dan berkunjung ke rumah Dia yang selama ini belum saya kunjungi, akhirnya saya perlahan menemukan kesimpulan. Yah bisa anda sebut pencerahan. 

Bahwa dengan saya tidak mau jujur bahkan kepada diri saya sendiri, saya telah menyakiti dan tidak baik kepada diri saya. Apakah membingungkan? Lebih baik saya perjelas cerita saja ya. 

Saya begitu marah ketika tidak jadi bepergian dengan orang yang saya sayangi. Sebabnya? Ia dilarang. Reaksi yang saya tunjukkan adalah "oh yasudah tidak apa-apa." Tetapi di dalam hati, saya begitu marah dan kesal kepada yang empunya larangan, menyebut bahwa apalagi sih yang harus dilarang. Kami hanya ingin bepergian sebentar di pagi hari untuk sejenak mendekatkan diri pada syukur dan itu pun tidak bisa?

Tetapi rasa tidak nyaman yang ada dalam diri saya atas kemarahan tersebut membuat saya berdalih, saya tidak jujur dan membuat alasan lain bahwa alasan saya kesal adalah "saya marah atas diri saya yang marah." Jika anda tahu, saya membuat alibi tersebut karena tahu tentang "lingkaran setan". Saya tidak jujur semalaman, merasa gundah dan marah dengan dalih membenci diri saya yang "tidak sabar". 

Padahal, yang perlu saya lakukan adalah jujur saja kepada diri sendiri. Maka semuanya terasa lebih mudah dan begitu lepas. Ketika saya dapat mengakui bahwa memang betul saya bisa marah, memang benar saya memiliki rasa kesal terhadap hal tersebut, saya begitu lepas dan tidak terganggu atas apapun yang terjadi. Saya menjadi benar-benar mengerti dan memahami dan secara sadar tentang semua hal yang saya lakukan.

Ketika saya secara sadar jujur kepada diri saya sendiri dan mengakuinya, saat itu pulalah saya selalu sadar akan segala tindakan yang saya lakukan. Tidak ada beban yang terpendam, yang ada malahan saya bisa mengelola untuk tidak memunculkan reaksi yang tidak perlu dan beraksi dengan mantap. 

Pada intinya, saya menyadari bahwa ketika kita mungkin merasa kecewa, marah dan berdalih begitu membenci diri kita sendiri, marilah tanyakan apa yang sebenarnya mengganggu diri kita. Berusahalah menjadi jujur, jangan berusaha "harus terlihat baik". Karena semakin kita menipu diri sendiri, semakin banyak pula ilusi yang kita munculkan. 

Bagi anda yang sudah mengetahui mengapa pentingnya jujur kepada diri sendiri, maka anda harus melakukan itu dari sekarang. Mari berusaha jujur, mari menjadi jujur, beranilah mengakui. Karena ketika anda jujur dan berani mengakui, secara sadar menyadari tindakan dan apa yang anda perbuat, saat itulah anda akan menjadi pribadi yang begitu tenang, tidak akan mudah goyah dan tumbang bahkan ketika badai datang. Simple sekali, jujur. Tetapi memang proses berlatih menjadi jujur tersebut adalah suatu tantangan. Bisakah anda menaklukannya? Mari dicoba ya. Nanti kita akan bercerita kembali.

Selamat hari Minggu, 

Salam enjoy dari Jenjoi~

Komentar