Lembar Satu : Sisi Lain

 Selamat hari Sabtu!

dengan Jeniffer Joi disini, si petualang yang merajut kebahagiaan membangun impian. 

Di lembar pertama ini kupikir begitu istimewa karena setelah kesekian kali akhirnya aku berani bersuara. Mengenai sisi lain yang mau kuungkap ini terinspirasi dari lamunan karena petuah dosen "lebih baik kehabisan uang daripada kehabisan waktu". 

Beberapa waktu belakangan, aku begitu terbebani sama perasaaan tidak suka yang mengganjal kepada beberapa individu. Yah, sebenarnya ada satu yang begituu menancap. Gak tau kenapa begitu terbebani, berat, merasa membawa gundukan sampah tiap kali perasaan itu muncul. Yang paling parah adalah waktu dimana berharap orang ini jatuh. Betapa bahayanya suatu perasaan negatif apabila terus dibiarkan menari liar di dalam diri.

Sampai ketika pagi hari ini walaupun terlihat tidak relate sama sekali diawal, tapi petuah kehilangan waktu itu benar-benar menyadarkan. Tanpa sadar dari kerasnya hati berberapa waktu belakangan, akhirnya aku luluh dan mencoba melihat "sisi lain" baik dari diriku sendiri dan pribadi-pribadi yang lain. 

Kenapa sih ada hal yang mengganggu ketika melihat orang tersebut? Oh, bisa jadi hanya ego yang tersinggung ketika mengingat perlakuan yang lalu. Kenapa sekiranya aku bisa begitu merasa sakit dan kesal akibat perbuatan seseorang? Ya tentu saja semata-mata karena aku cuma manusia, punya rasa dan kadang gak bisa mengontrol dengan bijak untuk menanggapi persoalan. Kenapa kira-kira dia menyakiti aku, ya? Bisa jadi dirinya sendiri pun sedang terluka dan secara gak sadar kembali melukai orang lain. 

Mencoba melihat dari sisi yang lain, dalam artian gak cuma memandang baiknya diriku dan buruknya orang, tetapi juga introspeksi buruknya sifatku dan baiknya pribadi yang lain. Berusaha pula gimana sih mulai mencoba memaafkan, melepas belenggu negatif untuk kedamaian diri sendiri. Bukan untuk orang lain. Kadang banyak yang suka lupa, begitupun aku. Kerena ketika sudah dirundung ego dan hanya mentok melihat di satu sisi, begitu merasa satu-satunya yang paling benar ya diri sendiri. Gak ada yang seluruhnya hitam dan gak ada yang seluruhnya putih. Selalu ada sisi yang lain untuk bisa dilihat sebelum ditindak. 

Kalau bisa mengambil sisi yang positif, untuk apa mau terjerat di sisi negatif? Ketika nanti waktu habis dan akhirnya sadar hanya menyia-nyiakan waktu dalam belenggu, apakah tidak lebih sakit dan menyesal?

Yah sekiranya sekian yang bisa aku tulis hari ini. Semoga mulai hari ini, setiap kita mampu menjadi pribadi yang luwes, berhati seluas danau dan memiliki kacamata dunia yang mau melihat sudut pandang lain dari suatu kejadian. Supaya selalu ada hikmah dan hal baik yang bisa digapai, supaya ada kedamaian yang tentram untuk proses bertumbuh.

Salam enjoy dari Jenjoi!



Komentar